Categories : Articles

Reviewed By TheWriter - Rating : 5.0
 

sidik jariMungkin dari anda ada yang bertanya-tanya apakah analisa sidik jari merupakan sebuah ramalan? pertanyaan ini wajar karena ada juga sebuah metode ramalan dengan menggunakan garis tangan atau yang lebih dikenal dengan palmistry dan kebetula letak sidik jari berdekatan dengan garis tangan sehingga munculah prasangka ini.

Dalam palmistry, kita bisa meramalkan panjang-pendek usia seseorang, peruntungan bisnis, nasib perkawinan (cerai, istri lebih dari satu dll), meramal jumlah anak yang nanti akan dimiliki, ramalan jodoh dan sejenisnya.

Lalu apakah analisa sidik jari meramal kehidupan seseorang? jawabannya tentu TIDAK. Jauh sekali perbedaan antara ramalan garis tangan (palmistry) dan analisa sidik jari.

 

Mengapa sidik jari BUKAN merupakan ramalan ?

1. Dalam laporan analisa sidik jari tidak ada peramalan panjang-pendek usia seseorang. Tidak ada ramalan peruntungan rejeki seseorang, ramalan hubungan asmara, jodoh dan sejenisnya. Analisa sidik jari juga tidak bisa meramalkan apakah seseorang nantinya menjadi orang baik atau orang jahat.

Analisa sidik jari hanya terbatas memetakan bakat dan personaliti seseorang bukan meramal si anak menjadi dokter, guru, pengacara, ilmuwan, atlet dan lain sebagainya. Bahkan analisa sidik jari tidak memberikan label kepada seseorang itu bodoh, pintar, jenius sebagaimana test IQ.

Dengan memetakan bakat dan personaliti, kita dapat lebih efektif dan efisien dalam mendidik anak sehingga orang tua bisa lebih memahami bahwa tiap anak memiilki bakat yang berbeda dan orang tua juga akan lebih bijaksana untuk tidak memaksakan anaknya mengikuti kehendak orang tuanya karena bakat orang tua dan anak belum tentu sama. Sampai sekarang masih banyak orang tua yang memaksakan anaknya berprestasi di bidang sains sehingga jika anak berbakat dalam bidang olahraga atau seni tidak diberikan apresiasi. Tentu pandangan seperti ini sudah usang karena anak adalah anugrah dari Allah yang memiliki bakatnya masing-masing.

2. Analisa sidik jari adalah metode assesment yang bisa mengukur bakat, personaliti seseorang melalui test genetika dari sample 10 sidik jari. Diperlukan alat seperti scanner sidik jari yang kemudian dianalisa oleh praktisi sidik jari melalui software analisa sidik jari. Adapun yang diukur adalah multiple intelligence (8 kecerdasan) : logika, musik, naturalis, interpersonal, intrapersonal, visual-spatial, kinestetik, verbal linguistik. Sedangkan pemetaan profil adalah berdasarkan DISC Profile atau Bird Profile.

Perbedaan kami dengan metode assesment yang lain adalah, kami mengukur secara genetik melalui 10 sidik jari sedangkan metode lain yang biasanya digunakan oleh psikolog adalah menggunakan metode tanya jawab atau pengetesan. Sebagai contoh, untuk memetakan 9 kecerdasan majemuk, biasanya anak akan ditest tentang matematika, bernyanyi, mengkategorikan gambar atau orang tuanya ditanya apakah anaknya suka dengan alam,hewan untuk mengukur apakah anak memiliki kecerdasan naturalis atau tidak.

Keunggulan metode kami adalah tidak ada test atau tanya jawab karena jawaban bisa bersifat bias, misalnya jika anak lagi tidak mood maka test yang dilakukan juga tidak bisa maksimal sehingga pemetaan bisa salah. Atau jika orangtuanya ditanya pun sebatas memberikan jawaban yang “kira-kira”. Pada assesment untuk orang dewasa misalnya untuk memetakan personaliti, jawaban yang diberikan pun bisa direkayasa sehingga hasilnya bergantung kepada kejujuran peserta assesment.

Jadi sebenarnya, analisa sidik jari bisa dijadikan metode komplementer atau tambahan untuk memperlengkap metode assesement yang lainnya sehingga bisa untuk perbandingan. Ada juga beberapa pihak yang mengatakan analisa sidik jari tidak ilmiah atau cuma sekedar ramalan hanya karena pihak tersebut merasa tersaingi dengan metode ini.

Penting untuk dipahami bersama bahwa, ilmu pengetahuan manusia senantiasa berkembang sehingga bersikap terbuka adalah hal yang terpenting. Pada masa lampau, jika kita berpendapat bumi itu bulat bisa dihukum mati, namun faktanya bumi sudah bisa dilihat bentuknya karena perkembangan ilmu pengetahuan manusia.

Artinya adalah, metode assesment bisa berinovasi sesuai peradaban jaman dan teknologi sehingga diperlukan sikap yang terbuka untuk menerima sesuatu pengetahuan yang baru.

3. Analisa sidik jari dapat secara ilmiah dipertanggung jawabkan karena ilmuwan telah banyak meneliti tentang sidik jari. Anda bisa membaca secara lengkap di http://www.sidikjariindonesia.com/sejarah-riset-analisa-sidik-jari

Analisa sidik jari telah mengambil sample jutaan orang di seluruh dunia sehingga memiliki akurasi yang tinggi. Tanpa sample yang begitu banyak, tentu tidak mungkin analisa sidik jari berkembang karena akurasinya akan rendah dan jika hanya tebak-tebakan tentu tidak akan berkembang ke seluruh dunia.

Analisa Sidik Jari Menurut Islam

Berbeda dengan metode assesment lainnya, sidik jari memiliki memiliki dasar hukum yang kuat karena sidik jari telah disebutkan dalam Al Quran :

“Apakah manusia mengira bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang-belulangnya? Ya, bahkan Kami mampu menyusun (kembali) UJUNG JARI-JARINYA dengan sempurna.” (Al Quran, Al Qiyamah (75) :3-4).

Atau dalam bahasa inggris :

Does man think that We will not assemble his bones? Yes. [We are] Able [even] to proportion his FINGERTIPS. (Al Quran, Al Qiyamah (75) :3-4).

Pada ayat diatas, Allah menyebutkan ujung jari (sidik jari) atau fingertips. Untuk apa Allah membangkitkan manusia dengan menyusun kembali sampai ke ujung jari ? kenapa tidak menggunakan istilah “dari ujung kaki hingga ke ujung rambut” ? kenapa harus gunakan istilah ujung jari?

Di sinilah pentingnya manusia melakukan “iqra” atau kajian, ada apa dengan sidik jari? Kita harus memahami bahwasanya dalil/ayat dalam islam tidak semata-mata dalil kitabiyah. Alam semesta, tubuh manusia juga termasuk dalil/ayat yakni ayat qauniyah. Ayat qauniyah sering dilupakan umat islam sehingga tidak heran kita tertinggal dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan mengkaji ayat qauniyah ini, sidik jari kini dapat dimanfaatkan sebagai alat identifikasi manusia dan kini berkembang hingga bisa dimanfaatkan dalam memetakan potensi manusia.

Perhatikan pula hubungan antara sidik jari dan otak untuk mengambil keputusan dan semuanya ada di dalam Al Quran. Allah berfirman, “(Yaitu) ubun-ubun yang mendustakan lagi durhaka.” (Al-‘Alaq: 16)

Bagaimana mungkin ubun-ubun disebut berdusta sedangkan ia tidak berbicara? Dan bagaimana mungkin ia disebut durhaka sedangkan ia tidak berbuat salah? Prof. Muhammad Yusuf Sakr memaparkan bahwa tugas bagian otak yang ada di ubun-ubun manusia adalah mengarahkan perilaku seseorang. “Kalau orang mau berbohong, maka keputusan diambil di frontal lobe yang bertepatan dengan dahi dan ubun-ubunnya. Begitu juga, kalau ia mau berbuat salah, maka keputusan juga terjadi di ubun-ubun.”

Dalam kaitannya dengan ilmu analisa sidik jari, bagian frontal lobe ternyata berhubungan dengan fungsi berpikir dan mental yang diasosiasikan pada ibu jari dan jari telunjuk dimana frontal lobe sendiri terdiri dari inferior dan superior lobe.

1. Inferior frontal lobe/post frontal (fungsi pemikiran) : pemikiran rasional, logika, penalaran,komunikasi,ide, imajinasi dll.

2. Superior frontal lobe/pre frontal (fungsi mental) : perencanaan, manajemen diri, refleksi diri, kepemimpinan, visi/misi, bersosialisasi dll.

Dengan demikian, terbuktilah bahwa sidik jari berkaitan dengan otak karena teorinya saling mendukung. Dalam Al Quran, bagian frontal lobe disebutkan bertanggung jawab terhadap pengambilan keputusan dan dalam ilmu sidik jari pun frontal lobe juga diasosiasikan dengan sidik jari yang bertanggung jawab terhadap pengambilan keputusan (fungsi pemikiran dan fungsi mental).

Sidik jari menyimpan rahasia ilahi yang luar biasa dan ini akan terus berkembang melalui berbagai penelitian. Mengapa sidik jari dapat digunakan untuk memetakan potensi manusia? dalam Al Quran dikatakan :

“…dan, Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya” (QS Al Furqaan:2)

“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.” (QS Al Qamar:49)

Dari ayat diatas, sidik jari pun ternyata memiliki ukuran-ukuran seperti tipe sidik jari (whorl, loop, arch), garis-garis pada sidik jari, ridge ending, bifurcation, island dan lain sebagainya. Ukuran-ukuran tersebut baru diketahui setelah melakukan penelitian sehingga kemudian sidik jari bisa dikategorikan bentuk-bentuknya. Jika Allah menetapkan sesuatu tidak dengan ukuran-ukuran, maka sidik jari manusia semua bentuknya tidak akan beraturan dan tentu tidak bisa dikategorikan melalui riset sehingga tidak memiliki manfaat/hikmah atas terciptanya sidik jari pada manusia.

Allah menciptakan segala sesuatu tentu akan ada hikmah di balik semua penciptaan ini. Karena keterbatasan ilmu manusia, masih banyak ilmu/hikmah itu yg masih tersembunyi dan disitulah tugas manusia sebagai khalifah di muka bumi untuk iqra mengkaji ayat-ayat Allah.

Semoga dengan artikel ini kita mendapatkan ilmu yang lebih banyak lagi sehingga pengetahuan kita bertambah. Hanya dengan ilmulah, manusia dapat menjalankan fungsi dan perannya sebagai khalifah sehingga dapat selalu berada dijalah yang diridhoi Allah. Tanpa ilmu, kita akan mudah dibodohi oleh pikiran-pikiran awam kita sendiri atau pikiran awam orang lain yang tidak memiliki ilmu, padahal Allah telah berfirman : “Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak memiliki ilmunya sesungguhnya pendengaran, pengelihatan, dan hati seluruhnya itu akan ditanya tentangnya”. [al Isra:36]


Tags :